Demam Mobil Listrik di Indonesia, Patutkah?

Teknisimobil.com – Beberapa waktu ini (atau dalam hitungan tahun belakang), sering kita jumpai berita-berita mobil listrik di Indonesia, bak ‘demam’ mobil listrik tentunya. Lalu, sudah patutkah Indonesia mengikuti tren mobil listrik dunia? Tidak perlu dijawab tentunya. Mari kita cermati beberapa hal berikut.

Kemungkinan Mobil Listrik di Indonesia Beberapa Tahun ke Depan

Terdapat sekitar 10, setidaknya, mobil listrik yang akan masuk ke Indonesia tahun depan. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa pemerintah akan melakukan pengujian terhadap sepuluh mobil listrik di bulan ini yang dua diantaranya adalah milik pabrikan yang cukup terkenal di Indonesia yakni Mitsubishi, seperti kami lansir dari Kompas pada tanggal 1 Desember lalu.

Meski tujuan dari pengujian ini bukanlah suatu bentuk ‘pengujian kelayakan’ akan hadirnya mobil-mobil tersebut di Indonesia, tetapi tetap dapat kita apresiasi. Karena tujuan pemerintah adalah untuk mempelajari guna menyusun kebijakan regulasi untuk mobil-mobil listrik tersebut.

Selain mobil listrik yang berasal dari Mitsubishi, terdapat kemungkinan besar di antara kesepuluh mobil listrik tersebut adalah mobil listrik yang akan diproduksi oleh Sokonindo. Perusahaan ini telah diresmikan beberapa waktu lalu oleh pemerintah. Dan sepertinya akan menjadi salah satu perusahaan yang paling banyak hadir tahun depan mengingat perakitan kendaraan tersebut di Indonesia secara keseluruhan.

Apalagi jika 10 mobil tersebut mampu menyaingi harga yang dipatok oleh perusahaan mobil listrik Tesla – seperti yang dimiliki oleh mantan menteri Dahlan Iskan. Sebanyak mobil tersebut tentu sedikit dipaksakan jika melihat kesiapan pemerintah dalam menghadapi keberadaan mobil listrik di Indonesia saat ini.

 

Daya Listrik yang Diperlukan

Jika kita lihat peningkatan ketersediaan listrik di Indonesia dari tahun ke tahun, maka tentu bukan menjadi masalah apabila pemerintah menampung mobil-mobil listrik untuk masuk ke Indonesia. Begitu juga jika kita melihat peningkatan penggunakan energi terbarukan yang dilakukan oleh para penyedia (pembangkit) listrik, ini juga memungkinkan untuk menjadi salah satu bentuk kesiapan pemerintah.

Tetapi apakah ketersediaan sumber daya listrik tersebut cukup? Realitanya, Indonesia merupakan negara kepulauan yang nyaris hampir semua daerah memiliki wilayah-wilayah dengan jarak tempuh panjang. Belum lagi masalah pemerataan distribusi listrik yang masih bergantung pada kebutuhan di sektor-sektor tertentu. Hal ini tentu menjadi suatu masalah. Mengingat bahwa kendaraan listrik, seperti halnya kendaraan berbahan bakar fosil, memerlukan tempat pengisian ulang baterai untuk jarak-jarak tertentu.

Hal ini menjadi semacam keharusan yang perlu ditinjau ulang oleh pemerintah. Yakni penyediaan stal-stal semacam ‘SPBU’ di titik-titik di sepanjang jalan-jalan utama baik jalan provinsi maupun kabupaten kota. Mampu kah pemerintah menyediakan semua ini?

Sepertinya tidak. Kemampuan pemerintah dalam hal ini, sepertinya, hanya untuk masyarakat di kota-kota besar. Apakah ini adil untuk masyarakat di daerah-daerah?

Kebutuhan Masyarakat atau Gengsi

Meski pemekaran wilayah di Indonesia akhir-akhir ini sangat gencar, sepertinya bukanlah suatu jaminan jika hal tersebut menandakan tingkat kesejahteraan masyarakat. Alih-alih jumlah populasi yang tak terkendali di masyarakat. Tidak perlu data statistik, bahwa kita mampu melihat jumlah masyarakat dengan kemampuan ekonomi mapan tidak lah sebanding dengan yang mengalami kesulitan ekonomi. Ini hampir terjadi di setiap daerah. (Mungkin tidak untuk lima provinsi besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dll.).

Di tinjau dari sebaran sumber penghasilan yang dimiliki oleh masyarakat. Di Indonesia, masih didomonasi oleh penghasilan yang berasal dari buruh, petani, peternak, dan pekebun yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Ini tidak realistis jika jika mengatakan Indonesia sudah butuh dengan mobil listrik. Meski seperti halnya Tesla untuk beberapa tahun ke depan menyediakan pickup listrik.

[Baca juga: Hal-hal teoretis tentang mobil listrik]

Dari beberapa realita tersebut, maka tentulah dapat dikatakan bahwa mobil listrik bukanlah sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Mungkin 30 atau 50 tahun ke depan. Lalu apa tujuan pemerintah memfasilitasi mobil-mobil listrik masuk ke Indonesia? Mungkin ini yang kita sebut sebagai ‘gengsi pemerintah’. []