Sensor ECT pada Sistem Pendingin Mobil

Teknisimobil.com – Sensor ECT atau engine coolant temperature sensor adalah sebuah resistor variabel temperatur yang digunakan pada sistem pendingin mobil. Sensor ini biasanya memiliki koefisien temperatur negatif. Sensor yang merupakan termistor dua-kawat yang terendam dalam air coolant radiator yang mampu mengukur temperaturnya. ECU akan menggunakan sinyal dari sensor ini sebagai faktor koreksi utama saat menghitung gerak maju dan durasi injeksi.

Cara Kerja Sensor ECT

(Credit: Rick’s Free Auto Repair Advice)

Proses kerjanya adalah mengubah variasi resistensi ECT ke variasi tegangan untuk diproses lebih lanjut oleh ECU. Sensor ECT terhubugn dalam rangkaian yang memiliki tegangan referensi +5 volt. Pada saat mesin dingin dan pada temperatur sekitar 20 derajat celscius, resistansi sensor antara 2000 ohm hingga 3000 ohm. Setelah mesin hidup, temperatur air radiator akan meningkat. ECT secara bertahap juga akan memanas dan resistensi berkurang secara proporsional. Pada saat temperatur mencapai 90 derajat celcius, resistansi ECT akan berada pada kisaran 200-300 ohm.

Oleh karena itu, sinyal tegangan variabel bergantung dengan temperatur air radiator untuk dikirim ke ECU mobil.

Jenis Sensor ECT

  • Dengan koefisien temperatur negatif. Ini adalah sensor paling populer yang digunakan pada mobil. Resistansi sensornya berkurang dengan meningkatnya suhu.
  • Dengan koefisien suhu positif. Digunakan di beberapa sistem lama, seperti Renix. Di sini tegangan dan resistan meningkat dengan naiknya suhu.

Pengujian menggunakan AVO-Meter

Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan pengujian sensor ECT dengan menggunakan AVO-Meter.

  • Buka tutup karet pelindung pada konektor sensor.
  • Hubungkan kabel negatif voltmeter ke ground atau chasis.
  • Tentukan mana yang merupakan terminal sinyal dan terminal negatif sensor.
  • Hubungkan kabel positif voltmeter ke terminal sinyal ECT.
  • Mulailah dengan mesin dalam keadaan dingin.
  • Tergantung pada temperatur, pembacaan tegangan harus dalam kisaran 2V hingga 3V. Hubungan antara tegangan dan temperatur ditunjukkan pada tebal di bawah.
  • Periksa apakah sinyal tegangan ECT sesuai dengan temperatur. Anda akan membutuhkan termometer untuk tujuan tersebut.
  • Nyalakan mesin dan biarkan hingga temperatur kerja mesin tercapai. Selama pemanasan mesin, tegangan harus menurun sesuai dengan nilai yang diberikan pada Tabel.
  • Masalah umum adalah bahwa resistansi keluaran (dan voltase) berubah secara keliru di luar kisaran normalnya. Nilai normal dari tegangan sensor ECT adalah 2V pada mesin kondisi dingin dan 0,5V pada mesin kondisi ‘hangat’. Sensor cacat atau rusak dapat menunjukkan tegangan 1,5V pada saat dalam kondisi dingin dan 1,25V pada saat mesin kondisi hangat, sehingga menyebabkan kesulitan menghidupkan mesin dingin dan adanya campuran bahan bakar yang kaya ketika mesin hangat. Ini tidak akan menghasilkan kode kesalahan apa pun (jika pengontrol onboard tidak diprogram untuk mendeteksi perubahan tegangan) karena sensor terus beroperasi dalam parameter desainnya. Jika kondisi tersebut ditemukan, sensor ECT harus diganti.
  • Jika sinyal tegangan ECT sama dengan 0V (kekurangan catu daya atau ada korsleting ke ground) atau jika itu 5.0V – ini menunjukkan adanya short circuit.
Tabel 1.

Pengujian di atas adalah pengujian untuk jenis sensor ECT tipe koefisien temperatur negatif yang paling banyak digunakan pada mobil.

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *