Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor pada Mobil

Teknisimobil.com – Salam teknisi mobil di mana pun Anda berada. Apa kabarnya Anda semua? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apa pun. Kali ini saya akan mencoba membahas tentang Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor pada sebuah mobil. Meski ini pabrikan otomotif hampir tidak lagi memproduksi jenis sistem pengapian ini tetapi sebagai bahan pengetahuan dasar otomotif ini penting.

Update Terakhir: 3 Oktober 2022.

Sebelum kita membahas cara kerja distributor atau cara kerja sistem pengapian distributor pada mobil, kita pertama-tama akan membahas tentang komponen-komponen yang menyusun distributor mobil. Ada beberapa yang anda perlu ketahui untuk memahami cara kerjanya. Oleh karena itu, perhatikan baik-baik bagian ini. 

Komponen Distributor Mobil dan Fungsi Masing-masing

Kali ini kita akan membahas komponen distributor pada pengapian mobil. Fungsi dan cara kerja distributor pada mobil adalah sebagai berikut. Sebagai tambahan pengetahuan, bahwaa sistem pengapian distributor, pabrikan otomotif sudah tidak lagi mengeluarkannya. Bahkan jauh sebelum sistem injeksi (EFI), sistem pengapian distributor sudah mengalami perubahan dan mobil menggunakan CDI untuk menggantikannya. 

1. Distributor Cap (Tutup Distributor)

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Komponen pertama distribrutor mobil adalah tutup distributor. Sesuai namanya, distributor cap berfungsi untuk menutup bagian distributor. Tetapi, ini bukan sekedar tutup, karena kita tidak dapat menggantinya dengan tutup yang berbeda dengan ini. Hal ini karena fungsi utama distributor cap bukan hanya sebagai “tutup” saja. Fungsi distributor cap adalah sebagai terminal yang terhubung dengan kabel busi dan kabel sekunder coil.

Setiap terminal pada tutup distributor akan bergesekan dengan rotor untuk menerima tegangan tinggi dari koil. Dari terminal tersebut arus listrik tegangan tinggi mengalir ke setiap busi melalui kabel busi tegangan tinggi.

2. Rotor

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Untuk membahas cara kerja distributor mobil, komponen satu ini tidak mungkin kita tinggalkan. Apa itu? Ya, komponen tersebut adalah rotor. Rotor berfungsi untuk menerima tegangan tinggi dari coil dan mendistribusikan tegangan tersebut ke masing-masing terminal pada distributor cap. Rotor memiliki konduktor yang terhubung dengan kabel sekunder ignition coil dan ujung lainya terbebas.

Bagaimana rotor berperan dalam proses kerja distributor mobil? Cara kerja rotor yaitu dengan memanfaatkan putaran poros distributor. Saat poros distributor berputar, rotor juga ikut berputar. Putaran itu akan mendistribusikan listrik tegangan tinggi ke masing-masing busi. Sangat sederhana bukan?

3. Poros distributor

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor
Modifikasi gambar dari sumber: FourEyedPride.com

Komponen pada sistem kerja pengapian distributor mobil adalah poros distributor. Poros distributor terletak di bagian tengah distributor. Bagian ini yang akan terbuhung dangan camshaft dan pompa oli (untuk mesin dari Toyota, sebagai contohnya). Fungsinya juga bermacam-macam. Di bagian bawah poros, terhubung dengan pompa oli yang terkoneksi dengan crankshaft mesin. Sehingga putaran poros dipengaruhi oleh putaran mesin.

Selain itu, poros ini juga memiliki sebuah cam atau nok yang berfungsi untuk menekan kaki platina agar terjadi pemutusan arus. pada bagian atas, poros terhubung dengan rotor yang akan mendistribusikan listril tegangan tinggi ke masing-masing busi.

4. Platina atau Contact Point

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Komponen dalam cara kerja sistem pengapian distributor berikutnya adalah platina atau contact point distributor. Platina adalah sebuah komponen yang memiliki fungsi sebagai saklar pada sistem pengapian konvensional. Memiliki nama platina karena komponen ini memiliki contact point berbahan lohgam platina. Fungsi platina adalah untuk memutuskan arus primer coil sehingga menghasilkan tegangan sekunder yang sangat tinggi melalui proses induksi.

Cara kerja platina cukup sederhana. Dalam keadaan normal, kontak platina dalam kondisi terhubung. Saat poros mulai berputar, cam yang tertempel pada poros akan menyentuh kaki platina. Hal itu menyebabkan kontak platina renggang sehingga arus terputus.

5. Capacitor

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Selanjutnya, dalam cara kerja sistem pengapian distributor teradapat komponen yang memiliki nama capasitor. Orang juga menyebutnya sebagai kondensor mobil. Saat kontak platina terputus, akan menimbulkan percikan di celah kontak tersebut. Tentu hal ini bisa berakibat pada hasil pengapian. Kapasitor atau kondensor adalah komponen elektronika yang dapat menyerap arus listrik. Setelah kontak point, diletakan komponen kapasitor untuk menyerap percikan api yang terjadi. Sehingga proses pengapian dapat berlangsung secara maksimal.

6. Breaker plate

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Komponen yang ada pada cara kerja sistem pengapian distributor adalah breaker plate. Komponen ini ada di dalam distributor. Breaker plate merupakan sebuah tatakan tempat platina diletakan. Komponen ini dapat digerakan untuk mengubah timing pengapian. Hal itu karena breaker plate terhubung dengan advancer yang berfungsi mengubah timing pengapian.

Saat breaker plate bergeser, menyebabkan posisi platina juga ikut bergeser. Hal itu berakibat timing pengapian yang lebih awal ataupun lebih lambat. Dikomponen ini pula penyetelan celah platina dilakukan.

7. Vacum advancer

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor
Keterangan gambar :
1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial
2. Batang penarik
3. Diafragma
4. Pegas
5. Langkah maksimum
6. Sambungan slang vakum

Pada bagian ketujuh ini, komponen yang ada di dalam sistem pengapian distributor adalah vacum advancer. Vacum advancer adalah komponen pada distributor yang berguna untuk memajukan dan memundurkan timing pengapian berdasarkan beban yang diterima mesin. Bagian ini bekerja memanfaatkan tingkat kevakuman di intake manifold. Saat mesin menerima beban berat kaevakuman di intake manifold lebih kecil.

Kevakuman ini dihubungkan ke membran pada vacum advancer yang dapat bergerak sesuai kevakuman di intake manifold. Membran ini terhubung dengan batang yang terkoneksi dengan breaker plate, sehingga gerakan membran akan mempengaruhi posisi paltina.

8. Centrifugal advancer

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Sentrifugal advancer juga komponen yang berfungsi untuk mengubah timing pengapian, namun berdasarkan RPM mesin. Komponen ini terletak dibagian bawah breaker plate dengan dua buah pemberat. Semakin tinggi putaran mesin, waktu pengapian juga perlu dimajukan agar dapat terjadi pembakaran yang lebih maksimal.

Sentrifugal advancer bekerja berdasarkan prinsip gaya sentrifugal yang memiliki moment semakin besar setiap putaran bertambah. Saat poros berputar semakin cepat, pemberat akan semakin mengembang sesuai gaya sentrifugal. Pemberat yang mengembang akan menggeser breaker plate pada djstributor. Sehingga posisi platina juga berubah.

Cara Kerja Sistem Pengapian Distributor

Pengapian distributor saat ini memang sudah tidak diproduksi lagi oleh pabrikan-pabrikan otomotif dunia. Sistem ini tergantikan oleh kehadiran sistem pengapian DIS yang tidak lagi menggunakan distributor untuk membagi api busi. Meski demikian, sistem pengapian distributor masih banyak beredar di masyarakat. Dan terkadang justru menjadi barang unik bagi beberapa komunitas seperti komunitas Jimny Katana sebagai contoh.

Sistem pengapian distributor berarti menggunakan distributor untuk membagi api. Tegangan baterai 12 volt dari baterai akan masuk ke koil pengapian. Tegangan kecil tersebut akan berubah menjadi tegangan yang sangat tinggi hingga puluhan ribu volt akibat penaikan tegangan yang dilakukan oleh koil. Hasil pembangkitan tegangan tinggi tersebut kemudian bergerak ke distributor. Nah, di dalam distributor inilah tegangan tinggi akan salurkan ke busi masing-masing silinder.

Di dalam distributor terdapat komponen yang disebut sebagai rotor. Rotor berputar selaras dengan putaran poros distributor. Yang tentu saja sesuai dengan putaran poros engkol mesin. Di sisi lain, terdapat juga ‘arang’ yang menunjuk ke empat buah busi (sebagai contoh mesin inline 4 silinder). Melalui arang ini lah kemudian tegangan puluhan ribu volt tersebut disalurkan ke masing-masing busi. Tentu saja sesuai dengan aturan pengapian atau firing order (FO); yakni 1-3-4-2.

Komentar ditutup.