Mobil Listrik vs Pemerintah: Kesanggupan Indonesia 2025

Teknisimobil.com – Endemik mobil listrik dunia mengimbas sampai ke tanah air, menarik untuk membahas mobil listrik vs pemerintah dalam melihat kesiapan atas tantangan ini.

 

Advertisements
Mobil Listrik vs Pemerintah

Smart ED Electric Car. Photo by mariordo59

Kendati Indonesia belum mampu membangun mobil listrik secara mandiri, tetapi kenyataannya mobil listrik mulai hadir di Indonesia. Setidaknya beberapa orang Indonesia, seperti Dahlan Iskan, telah mampu membeli mobil listrik yang ia kendarai saat mengisi acara bersama Menteri Jonan beberapa waktu lalu.

Terlebih lagi, pemerintah mendukung beberapa produsen mobil seperti Honda, Toyota, Mitsubishi dan beberapa platform mobil populer di Indonesia untuk memproduksi mobil-mobil listrik untuk tanah air. Tetapi sanggupkah pemerintah (Indonesia) dengan menerima keberadaan mobil-mobil listrik tersebut untuk setidaknya pada tahun 2025?

Sebaran Ekonomi Masyarakat

Laporan wordbank.org dari tahun ke tahun memang Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dapat dikatakan baik. Setidaknya 5% per tahun dan diperkirakan akan terus naik hingga ‘mungkin’ tahun 2025. Tetapi kenaikan tersebut tersebar di masyarakat bagian mana?

Kenyataan yang ada peningkatan ekonomi terjadi pada masyarakat yang telah mampu mengatasi masalah kecerdasan atau dapat dikatakan para pembelajar. Ini pun tidak semua kemudian mampu keluar dari jerat masalah ekonomi. Masih banyak sekali kaum terpelajar yang sampai saat ini masih jatuh bangun untuk memperbaiki taraf kehidupan mereka. Oleh karena itu, tentu jangankan untuk membeli mobil seharga 2 milyar (untuk mobil Tesla seperti Dahlan Iskan), untuk membeli kebutuhan makan saja banyak yang kesulitan.

Belum lagi tingkat pengangguran dari lulusan SMK yang ternyata lebih besar jika dibandingkan dengan lulusan lainnya. Animo masyarakat terhadap SMK sampai saat ini masaih sangat tinggi. Janji pemerintah yang meletakkan SMK sebagai gerbang pencarian kerja nyatanya tidak semanis yang didapatkan. Ini juga merupakan bagian dari masyarakat yang ‘mustahil’ untuk menerima keberadaan mobil listrik. Lalu siapa yang siap?

Nah, sejatinya memang bisa dikatakan 20 persen masyarakat Indonesia akan ‘mungkin’ mampu membeli kendaraan listrik. Baik itu dari kalangan pengusaha, para eksekutif muda, dan tentu pejabat negara. Sehingga target pemerintah yang menetapkan sekitar 20% mobil listrik untuk Indonesia di tahun 2025 masih mungkin dapat tercapai.

Infrastruktur (Jalan Raya)

Untuk infrastruktur terutama jalan raya, sepertinya pemerintah akan lebih siap dalam memerima mobil listrik di tahun 2025. Pembangunan ruas jalan tol, meski banyak dikerjakan oleh pihak swasta, semakin gencar digalakan oleh pemerintah Jokowi ini. Terlepas dari ide awal, realitanya pembangunan jalan tol semisal di Sumatera, terus berjalan hingga saat ini dan progres pembangunan tampak stabil.

Belum lagi, terutama di pulau Jawa,  meski jalan raya dapat dikatakan sudah sangat memadai tetapi baik pemerintah daerah atau pemerintah pusat, masih terus melakukan banyak sekali perbaikan dan bahkan penambahan jalan raya baru.

Namun, nampaknya ini bisa jadi akan berbeda dengan di wilayah-wilayah lain di luar pulau jawa dan Sumatera. Bahkan di Sumatera sendiri, jalan raya dapat dikatakan baru jalan provinsi dan jalan kota kabupaten utama saja yang layak untuk kendaraan roda empat standar. Sementara untuk jalan lainnya perlu kendaraan ‘lumpur’ untuk dapat melewatinya.

Oleh karena itu, sepertinya tantangan keberadaan mobil listrik tahun 2025 ini akan sangat besar. Atau pemerintah hanya akan mampu mewujudkan mimpi mereka hanya untuk di tempat-tempat tertentu seperti Jawa dan sebagian Sumatera saja.

Ketersediaan Pengisian Baterai

Bagaikaman dengan ketersediaan pengisian baterai nantinya? Meskipun PT PLN (Persero) menyatakan kesanggupan membangun infrastruktur dan menyediakan pasokan listrik untuk mobil listrik, tetapi perlu kita sangsikan hal tersebut.

Memang pemerintah menggalakkan peningkatan ketersediaan listrik nasional jauh lebih besar dibandingkan untuk periode pemerintahan yang lalu. Tetapi, mampukan dengan mode ketersediaan listrik yang lebih banyak mengandalkan bahan bakar fosil untuk jangka panjang?

Seperti kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan ancaman dunia  akan krisis energi. Itu mengapa di beberapa negara maju atau bahkan berkembang mulai sejak dulu memikirkan isu krisis energi tersebut. Sebut saja Amerika, yang Tesla mampu membangun sel surya untuk semua tempat pengisian baterai untuk semua mobil yang mereka produksi di sana. Jika kita bandingkan dengan Indonesia memang belum sebanding, tetapi masalahnya bukan terletak pada mampu atau tidak. Masalahnya terletak pada keseriusan pemerintah dalam hal ini departemen-departemen terkait, atas pembangunan penyediaan listrik bagi masyarakat dengan basis energi terbaharui. Jika hanya mengandalkan listrik tenaga fosil saja, maka mungkin akan aman-aman saja pada 2025, tetapi untuk bisa jadi 2050 Indonesia akan mengalami krisis besar energi.

Oleh karena itu, sepertinya pemerintah dengan PLN nya bakalan siap menyongsong tahun 2025 atas kelahiran era mobil listrik. Tetapi tidak untuk tahun-tahun berikutnya jika pola pengelolaan listrik tetap sama seperti saat ini.[]

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Translate »